Fakta - Fakta Gunung Sumbing yang Harus Diketahui Para Pendaki

Fakta - Fakta Gunung Sumbing yang Harus Diketahui Para Pendaki
Setiap gunung pasti memiliki fakta menarik tersendiri termasuk gunung Sumbing yang akan kita bahas kali ini. Seperti halnya fakta tentang gunung Merbabu yang memiliki fakta banyak ditemukan bunga Edelwiss, terdapt tiga puncak utama, dan lainnya. Demikian pula dengan gunung Sumbing, bagi kalian para pendaki yang baru berencana mau kesana mungkin masih penasaran, untuk itu kalian harus tahu apa saja yang ada disana.

Berbicara mengenai fakta-fakta gunung, kita tahu khususnya para pencinta mendaki bahwa setiap gunung pasti memiliki kisah misteri tersendiri. Gunung Sumbing termasuk salah satunya dan bahkan bisa kita bilang memiliki cerita misteri paling fenomenal oleh pendaki Wonosobo. Setelah melakukan perjalanan ke sana, setidaknya kami telah memperoleh beberapa fakta mengnai gunung Sumbing yang bisa kalian simak berikut ini.

puncak gunung sumbing

1. Gunung Sumbing itu Terletak di 3 Kabupaten
Sumbing masuk dalam urutan ke tiga sebagai gunung tertinggi di pulau Jawa, yakni setelah gunung Smeru dan Gunung Slamet. Memiliki ketinggian 3.371 meter di atas permukaan laut menjadikan gunung Sumbing menduduku posisi gunung tertinggi ke 2 di Jawa Tengah setelah gunung Slamet.

Gunung ini secara administratif terletak di tiga wilayah kabupaten, yaitu Kabupaten Magelang, Kabupaten Temanggung, dan Kabupaten Wonosobo. Mengenai lokasi, sebagai pendaki tentunya ingin mengetahui rute manakah yang paling favorit diminati oleh para pendaki untuk sampai ke puncaknya? Jwabannya ada di fakta gunung sumbing yang ke dua.

2. Jalur Fovorit Pendakian Gunung Sumbing via Garung Reco (Wonosobo)
Alasan utama kenapa ini menjadi jalur paling ramai dilalui adalah bahwa Basecamp Gunung Sumbing via Garung cukup mudah ditemukan karena lokasinya yang berada di samping jalan, jika kamu dari Semarang dan Sekitarnya bisa melalui jalur Sumowono-Temanggung-Wonosobo, tepat setelah perbatasan Temanggung dan Wonosobo terdapat jalur ke kiri dengan papan petunjuk “Basecamp Garung Gunung Sumbing”.

Tak heran jika lewat jalur ini selalu rame apalagi malam tahun baru, pokoknya kamu gak bakalan kesepian deh. Jalur Gunung Sumbing via Garung terbilang cukup sulit karena menanjak terus, jadi saran dari kami persiapkan fisikmu terlebih dahulu sebelum mulai mendaki.

3. Ada 5 Jalur Resmi Pendakian Gunung Sumbing
Memang suatu saat nanti seiring berjalannya waktu jalur pendakian setiap gunung bisa saja mengalami perubahan baik bertambah atau sebaliknya. Ada 5 jalur resmi pendakian gunung Sumbing ini berdasarkan informasi tahun 2017.

Selain melalui Garung Reco, kabupaten Wonosobo yang telah kami sebit tadi, empat  jalur lainnya meliputi Cepit Parakan, Mangli Kaliangkrik, Bawongso, dan Sipetung (kab. Temanggung).

4. Di Gunung Sumbing Terdapat Pasar Setan
Dibilang mitos, memeng serita misteri itu mitos, tapi dibilang fakta memang sudah banyak pendaki gunung Sumbing yang menjumpainya. Jadi fenomena “pasar setan” ini tidak hanya terjasdi di gunung Sumbing saja, gunung lainnya seperti Merbabu dan Slamet juga ada.

Mengenai hal ini pastinya ada yang percaya dan ada yang tidak semua tergantung keyakinan masing-masing. Jadi penjelasannya kejadian semacam ini dikarenakan adanya pasar di gunung namuan tidak ketihatan melainkan hanya suara seperti halnya suasana karamaian pasar dan hanya beberapa orang pendaki saja yang biasanya akan menjumpai fenomena tersebut.

"Pasar Setan" di Gunung Sumbing berada sebelum Pasar Watu.  Konon, letaknya di jalur yang terjal dan berpasir setalah kita melewati pos 3.

Terkait hal misterius, selain hal ini di Gunung Sumbing juga memiliki kisah mistri lainnya seperti ada sekumpulan orang berjubah putih, hantu pertapa, raksasa hitam penunggu pintu masuk gunung.

Dari kalian semua tentu ada yang percaya dan tidak itu sudah wajar karena setiap orang memiliki keyakinan masing-masing namun intinya bukan itu. Terkait adanya hal misterius tersebut, sebenarnya tujuannya hanya satu, agar manusia tidak merusak alam melainkan menjaganya supaya alam digunung yang diciptakan dengan keindahannya tidak rusak.

Pemandian Air Hangat Kali Serayu (Wonosobo)

Pemandian Air Hangat Kali Serayu (Wonosobo)
Di Wonosobo itu banyak tempat-tempat pemandian air hangat, dari yang sudah dikunjungi oleh banyak orang dari luar kota hingga yang dikungjungi oleh beberapa warga sekitar. Kali Anget merupakan salah satu tempat pemandian air hangat yang sudah cukup populer di wilayah Wonosobo dan sekitarnya. Selain air hangat disitu juga tersedia kolam renang yang luas dengan berbagai fasilitas lumayan lengkap karena selalu dijaga dan dirawat olah petugas.

Tapi bukan itu yang akan saya bahas kali ini, melainkan pemandian air hangat di Kali Serayu yang lokasinya tepat dipinggir Kali Serayu. Letak posisinya berada di perbatasan antara dusun Bondalem dan desa Kalibeber kecamatan Mojotengah, Wonosobo. Sehingga yang mengunjungi pemandian air hangat Kali Serayu warga sekitar dua desa tersebut karena letak jangkauannya sangat strategis.

Siapa saja boleh berendam dan mandi di air hangat tersebut karena tempatnya terbuka untuk umum, namun kebanyakan pengunjungnya adalah kaum laki-laki. Meski kadang ada wanita yang berendam di situ, biasanya adalah seorang pendatang dari luar kota yang kebetulan ada saudaranya di desa Kalibeber.

pemandian kali serayu

Tempat pemandian air hangat selalu rame khususnya waktu sore hari menjelang maghrib, biasanya warga sekitar pada berendam usai pulang bekerja supaya badan jadi hangat dan lelah cepat hilang. Selain warga sekitar, karena di Kalibeber terdapat Pondok Pesantren, jika hari minggu atau sekolah libur maka air hangat Kali Serayu akan dipenuhi para santri.

Selain digunkan hanya untuk sekedar berendam atau mandi, air hangat tersebut dipercaya bisa menyembuhkan orang yang mengalami penyakit gatal pada kulitnya. Terutama anak-anak pesantren kadang ada yang gatal-gatal maka biasanya akan rutin berendam supaya kumannya mati dan gatal cepat sembuh. Terjadinya air hangat ini berasal dari tuk (sumber mata air) yang mengalir di atas lahar didalam tanah.

Wangan tandu kali serayu

Kalau kita menuju ke tempat pemandian air hangat kita akan melewati aliran sungai dari Kali Serayu yang berada di atas pemandian. Aliran sungai atau irigasi ini bernama wangan Tandu yang memiliki sejarang sebagai peninggalan jaman penjajahan Belanda. Memang yang buat adalah orang Indonesia, tapi atas perintah kolonial Belanda pada waktu itu. Besi sebagai pengetur air yang masih masih kokoh hingga sekarang karena terus dirawat maupun di cat ulang supaya tidak berkarat. Irigasi ini bertujuan untuk mengaliri lahan yang tadinya hanya bisa ditanami singkong bisa di sawah untuk ditanami padi sebagai bahan makanan pokok. Walaupun dulu perjuangannya sangat berat namun sekarang hasilnya bisa dinikmati oleh para anak dan cucu para pejuang. Air Kali Serayu dikenal bagus untuk mengairi sawah tanaman padi biasanya lebih subur dari pada aliran sungai yang lainnya.

Dari tadi kita membahas nama Kali Serayu yang ada di Wonosobo, tapi mungkin dari kalian ada yang belum tahu asal usul atau legenda dari nama Kali Serayu. Bahwa sumber mata airnya berasal dari pegunungan dieng disuatu tempat yang bernama Tuk Bima Lukar, untuk lebih jelasnya silahkan kalian simak ceritanya di bawah ini,

Di sebuah daerah dataran tinggi Dieng terdapatlah sumber mata air bernama Tuk Bima Lukar yang mungkin dari kalian sudah ada yang tahu, karena ini merepakan salah satu objek wisata di Dieng. Berdasarkan cerita atau legenda dari masyarakat sekitar, Tuk Bima Lukar ini mempunyai daya tarik tersendiri, yaitu dipercaya bagi siapa saja yang membasuh muka atau mandi dengan air di tuk tersebut akan menjadi orang tersebut awet muda.

Cerita Asal Usul Kali Serayu
Sedangkan asal mula cerita Tuk tersebut berawal pada suatu ketika sang Pandawa sedang pergi ke Dieng untuk membangun sebuah Candi sebagai tempat pemujaan. Di tengah perjalanan salah satu orang Pandawa yang bernama Bima merasa ingin buang air kecil (kencing), sehingga memutuskan berhenti untuk kencing. Anehnya, air kencng itu kemudian menjadi sebuah sumber mata air yang berupa Sendang, airnya tersebut sangatlah bersih dan jernih.

Pada suatu hari, Dewi Drupadi ingin mandi di sendang tersebut, maka berangkatlah Drupadi ke sendang tersebut itu, Ia segera melepas pakaian untuk mandi. Bima yang masih berada disekitar tuk, terkejut melihat kecantikan seseorang perempuan yang bernama Dewi Drupadi dalam kondisi telanjang bulat, mendadak ia merasa ingin kencing. Maka dengan membelakangi Dewi Drupadi ia kencing dan Dewi Drupadi tahu perbuatan Bima tersebut, kemudian bertanya: "Hai Kanda, mengapa Kanda membalikan badanmu?"

Sambil kencing Bima menjawab maaf, setelah saya melihat dinda melepas pakaian, saya terpesona, ternyata adinda adalah seorang putri yang cantik jelita tiada tara, yang dalam bahasa jawa nya Bima mengatakan bahwa “Siro Ayu” (kamu cantik), Dewi Drupadi tersipu malu mendengar sanjungan Bima tersebut. Dan akibatnya air kencing Bima tersebut menjadi tumpah. Dan terjadilah Sungai Serayu, yang diambil dari kata sira ayu, sedangkan sendang tersebut bernama tuk Bima lukar. Hingga kini Sungai Serayu Mengalir dari Wonosobo dan bermuara di laut Cilacap.
 ~selesai~

Menelusuri Pinggiran Kawah Gunung Sindoro

Menelusuri Pinggiran Kawah Gunung Sindoro
pemandangan gunung sindoro

Gunung Sindoro berada di dua kabupaten, yakni Wonosobo dan Temanggang provinsi Jawa Tengah, merupakan gunung aktif kabarnya terakhir meletus pada tahun 1906. Untuk bisa sampi kepuncaknya kita bisa melewati salah satu dari 4 jalur yang tersedia tergantung posisi keberadaan kalian masing-masing, mana yang paling dekat.

Yang pertama melewati jalur Sigedang
Sigedang adalah nama desa yang ada di Wonosobo, bagi kalian yang tinggal di kabupaten Wonosobo mungkin sudah tidak asing lagi dengan desa tersebut. Kalau kita melewati jalur tersebut berarti lewat punggung gunung sebelah utara. Untuk bisa sampai di dsa Sigedang kalau dari arah kota Wonosobo yakni dapat dijangkau dengan naik bus jurusan Dieng, lalu turunnya di pertigaan Rejosari arah ke Tambi. Dari Wonosobo kita juga bisa melewati jalur Jlumrit atau dusun Katekan untuk bisa sampai puncak gunung Sindoro.

Lewat jalur Kledung (kab. Temanggung)
Jalur ini biasanya lebih rame dari pada jalur Sigedang, ya bisa dikatakan sebagai jalur favorit bagi para pendaki gungung Sindoro. Kenapa? Kledung selain memiliki tingkat kesulitan yang lumayan juga pemandangan yang ada sisi sepanjang perjalanan yang indah. Kledung adalah nama kecamatan, namun base camp Kledung mudah ditemukan soalnya tepat di pinggir jalan raya dan tak jauh dengan jalur gunung Sumbing. Jalur dari temanggung selain Kledung masih ada satu lagi, yaitu Sibajak.

Gunung Sindoro memiliki ketinggian 3.136 meter di atas permukaan laut (mdpl), tipe gunung berapi stratovolcano. Untuk sampai hingga puncak sindoro dari base camp, kita membutuhkan waktu sekitar 6 sampai 7 setengah jam.

Salah satu daya tarik seseorang mendaki gunung Sindoro yakni adanya bunga Edelwis yang memiliki julukan sebagai bunga abadi. Julukan bunga abadi diberikan karena adanya hormon yang bisa mencegah kerontokan bunga, bagi para pendaki jangan sekali-kalai mengambil pohon Edelwis di gunung Sindoro karena dilindungi. Selain itu spot alam di atas puncak yang lapang setiap 17 Agustus pasti dilaksanakan upacara bendera olah para pendaki.

Pemandangan yang indah, terdapat batu besar, bukit serta dapat melihat view gunung lain dai puncak seperti gunung Sumbing, Slamet, Merapi, Merbabu, Ungaran dan gunung Lawu yang terlihat sangat gagah. Tak kalah menariknya yakni adanya Segara Wedi, disana kita bisa menulis atau mengambar dengan menata batu atau kerikil yang telah tergeletak banyak sehingga dinamakan Segara Wedi / Kerikil.

kawah gunung sindoro

Kalau melanjutkan perjalanannya menelusuri luasnya puncak gunung Sindoro yang sudah tercium baunya dari kejauhan adalah Kawah. Sesuai yang telah dikatakan bahwa gunung Sindoro merupakan gunung aktif kawahnya lumayan besar, kalau dari jarak sekitar 10 meter baunya sangat menyengat, namun kalau kita mendekati justru tidak terlalu bau. Dikelilingai tanah putih yang gersang dan bebatuan menjadi lokasi fovprit untuk berfoto disekitar kawah dengan background asap.

Jika kita sudah lumayan panas dan tak tahan dengan bau kawah, bisa melanjutkan jalan sampil memandang gemuruhnya air kawah. Berikutnya akan menemukan batu besar dan tebing yang tinggi dengan pemandangan luas, tapi tetap hati-hati kalau mau foto di atas batu.

Yang terakhir mungkin ini ada satu tips atau saran dari saya, ya semoga saja bermanfaat.
Jika kalain mau ke puncak Sindoro jangan lupa bawa baju cadangan setidaknya kaus, karena bau kawah yang menyengat akan meresap pada baju yang kalian pakai. Walaupun nantinya sudah dicuci kalau baaru sekali belum apa-apa, setalah 7 kali cuci baunya baru bisa hilang.

Itulah mengapa kalian harus bawa pakaian cadangan kalau mau menelusuri pinggiran kawah gunung Sindoro.

Tips Pendakian Gunung Prau (di Wonosobo) Bagi Para Pemula

Tips Pendakian Gunung Prau (di Wonosobo) Bagi Para Pemula
Pernahkah kalian pergi mendaki ke gunung Prau yang ada di kabupaten Wonosobo? Jika belum mari kita simak informasi singkat tentang gunung Prau. Adalah gunung yang terletak di kawasan dataran tinggi Dieng yang dapat kita tempuh hanya dengan waktu sekitar 3 sampai 5 jam saja, jarak tempuk segitu tentu saja sangat direkomendarikan untuk para pemula.

Jika kalian ingin mencoba menaiki gunung Prau setidaknya ada delapan jalur ygn bisa dilalui hingga kita bisa sampai ke puncak tertinggi. Diantaranya adalah melalui Patak Banteng, Ding, Kalilembu, Dwarawati, Wates, Kenjuran, Pranten dan Campurejo. Dari jalur pendakian tersebut paling populer atau yang biasanya rame dilalui adalah lewat jalur Patak Banteng, karena melalui jalur ini lebih dekat.

pemandangan sunrise gunung prau

                                 Tips Pendakian Gunung Prau
1. Persiapan
Tidak hanya mendaki ke gunung prau pastinya persiapan sudah menjadi kewajiban, terlebih lagi kalian seorang pemula yang sebelumnya belum persah sama sekali melakukan perjalanan mendaki gunung. Seperti halnya menyiapkan alat-alat muncak, baik itu pakaian, bekal makanan, wadah air, peralatan masak dan lain sebagainya.

Walaupun saat kita berangkat cuaca masih terang, kadang sampai lokasi basecamp bahkan mungkin di puncak bisa saja hujan turun, oleh karena itu jangan lupa bawa mantol atau jas hujan. Perlengkapan penting lainnya seperti p3k juga persiapkan masing-masing. Kalau kalian ke gunung prau saat musim kemarau jalan menuju puncak gunung pasti akan berdebu untuk itu jangan lupa bawa masker atau sleyer.

2. Menentukan Jalur Pendakian
Berikutnya sebelum kalian berangkat pastikan sudah menentukan jalur pendakuan gunung Prau supaya tidak bingung. Apalagi baru pertama kalinya mau ke gunung prau, seperti yang telah saya sampaikan bahwa jalur pendakian gunung prau setidaknya ada delapan rute yang berbeda. Namun jalur pendakian yang ramai dilalui dan mudah dijangkau adalah via Patak Banteng. Selain itu jalur Patak Banteng terbilang berjarak lebih dekat dibandingkan dengan lainnya, sehingga cepat ditempuh untuk sampai di puncak maka tak heran banyak pendaki pemula melalui jalur tersebut.

Arah perjalanan hingga sampai ke desa Patak Banteng, jika kalian telah sampai di kota Wonosobo yakni terminal Mandolo, dengan menumpang mini bus Jurusan Wonosobo – Dieng. Setelah itu turun di Kantor Balai Desa Patak Banteng, yang letaknya berada disebelah kiri jalan. Namun jika para pendaki menggunakan angkutan pribadi, bisa melalui jalan menuju banjarnegara langsung tanpa melewati kota Wonosobo.

3. Tentukan Waktu Berangkat
Gunung Prau memiliki ketinggian 2565 meter di atas permukaan laut (mdpl), suhu udara disana kalau musim dingin bisa minus 2 derajat celcius. Oleh karena itu bagi para pemula mendingan jangan naik pada waktu malam hari, paling tidak sampai disana sore dan mulai naik sekitar pukul 4-5 sore supaya diperjalanan belum terlalu dingin.

Karena suhu udara yang begitu dingin kalau dipaksakan takutnya bisa mengakibatkan Hipotermia, dimana mekanisme suhu tubuh kesulitan untuk mengatasi tekanan suhu yang singin. Jadi kalian wajib bawa jaket gunung yang tahan air maupun hembusan angin supaya badan tetap hangat.

4. Diperjalanan Saling Membantu
Pastikan setelah mampai di basecam desa Patak Banteng salah satu dari kelompok mengisi pendaftaran guna mendata nama dan alamat kepada petugas. Ini sudah menjadi kewajiban apabila keselamatan kalian apabila terjadi sesuatu musibah selama di puncak maka petus akan bertangggung jawab dan membantu penyelamatan.

Saling membantu satu sama lain selama diperjalanan, itu sudah pasti demi kenyamanan bersama maka jangan sampai meninggalkan salah satu sari kalian. Apabila mau istirahat harus bareng-bareng, kalaupun mau ditinggal karena ada salah satu teman sudah tidak kuat manjat jangan dipaksakan, ada yang nemenian satu atau dua orang baru tidak apa-apa dilanjutkan perjalanan. Tidak hanya sesama kelompok, terhadap orang lainpun setidaknya saling membantu kalau kalian ingin disebut sebagai pendaki gunung sejati.

5. Cari Tempat Ngecamp Yang Aman
Setelah sampai dipuncak kalian harus mencari lokasi yang strategis dan aman dari genangan air maupun angin lebat. Misalkan di puncuk sudah banyak tenda, kalian cari tempat disela-sela mereka yang masih muat untuk mendirikan tenda. Akan tetapi kalau masih sepi dan letak tenda yang lainnya berjauhan, kalian bisa mencari tempat yang sampingnnya ada semak-semak guna melindungi tenda dari angin maupun badai ketika ada hujan lebat.

6. Peduli Lingkungan
Gunung Prau menjadi favorit para pendaki pemula, sehingga menjadi satu-satunya gunung di Wonosobo paling ramai dikunjungi. Tidak semua pendaki peduli terhadap lingkungan khususnya yang masih pemula banget arena ikut-ikutan temen, disana itu banyak sampah. Jadi tolong kalau kalian cinta terhadap alam, buat siapa saja jangan membuang sampah sembarangan. Kadang kita walau sudah tahu larangan membuang sampah sembarangan, namuan melihat disekitarnya banyak sampah berserakan biasanya kita mau terbawa sama lingkungan.

Untuk itu kami peringatkan sekecil apapun sampah yang kalian miliki tetep disimpan dan bawa turun dari gunung karena telah disediakan tempatnya. Kalaupun mau dibakar di atas, pastikan sampah sudah benar-benar habis dan apinya telah padam.

Itulah beberapa tips dari kami buat kalian para pemula yang mau berkunjung ke gunung Prau. Terus bagaimana dengan keindahan pemandangan disana? Mungkin kan kalian telah melihat foto orang-orang di gunung Prau melalui media sosial ya gambarannya seperti itu. Supaya tidak penasaran, langsung saja buktikan ke sana, kalian tidak bakal kecewa dengan indahnya pemandangan golden sunrise yang siap menenti kalian semua di gunung Prau.

Puncak Tertinggi Gunung Pakuwaja di Dieng

Puncak Tertinggi Gunung Pakuwaja di Dieng
Jika kalian ke Wonosobo akan melihat pemandangan gunung di sekitar sebut saja seperti gunung Sindoro, Sumbing, Bismo, dan masih banyak lagi terutama jika pergi ke Dieng ada banyak disana. Disini kita akan berbicara mengenai gunung Pakuwaja, memang gunung tersebut tidak begitu populer dibandingkan dengan gunung seperti Sumbing dan Sindoro akan tetapi Pakuwaja tidak kalah indah pemandangan dipuncak gunung.

Kalau nama Dieng sudah tidak asing lagi di Indonesia bahkan mungkin di luar negeri, gunung Pakuwaja merupakan salah satunya yang berada di komplek gungung Dieng. Untuk mencapai ke puncak gunung tersebut setidaknya ada tiga jalur yang bisa dilalui untuk sampai ke gunung Pakuwaja. Yang pertama dari desa Sembungan yang satu jalan dengan bukit Sikunir, kemudian melalui desa Parikesit, dan juga dari atas Dieng Plateau.

Puncak Gunung Pakuwaja

Ketinggian gunung Pakuwaja 2413 meter di atas permukaan laut (MDPL), dari ketiga jalur tersebut yang bisa dilalui hingga sampai Gunung Pakuwaja yang paling dekat adalah melalui desa Sembungan. Hanya memerlukan waktu sekitar 1.5 jam, sedangkan kalau lewat jalur Dieng Plateu dan Parikesit hingga 2 sampai 3 jam baru sampai puncak. Walaupun jangkauan terdekat melalui desa Sembungan, namun kalau kita mau pergi muncak ke gunung Pakuwaja disarankan melalui desa Parikesit karena Basecamp ada di sana, dengan alamat desa Parikesit jalan Dieng KM 23 Kejajar.

Tidak heran memang, jika gunung ini begitu jadi primadona pendaki pemula dan profesional karena jarak tempuh hanya 2 jam dari basecamp menjadi daya tarik tersendiri. Nah, siap-siap saja bagi kalian yang penasaran dengan gunung Pakuwaja di Dieng tersebut, apalagi yang di luar kota ada saudara yang tinggal di Wonosobo.

Mengapa Dinamakan Gunung Pakuwaja?
Lain dengan gunung Prau, gunung pakuwaja menawarkan keheningan bukit serta kabut yang selalu menyelimuti lereng-lerengnya. Berbicara mengenai asal-muasal atau mengapa namanya gunung Pakuwaja.

Bahwa tujuan utama para pendaki Pakuwaja adalah sebuah batu besar yang memiliki bentuk unik yakni menjulang tinggi, ini yang menjadi cerita dan asal mula muncul nama Pakuwaja. Batu itulah yang menjadi pusat perhatian dan juga primadona pendakian Pakuwaja dan berdasarkan cerita orang tua atau legenda setempat, batu itu adalah paku atau pasaknya pulau Jawa. Atau ada juga yang bilang konon batu yang terdapat di Pakuwaja merupakan paku raksasa yang memperkuat Pulau Jawa.
“Karena pada jaman dahulu pulau Jawa konon terombang-ambing, barulah ketika diberi batu itu pulau Jawa bisa kembali stabil,” menurut cerita salah satu warga sekitar.

Gunung Pakuwaja bisa masih tergolong bersih  dan jarang digunakan sebagai lokasi pendakian. Selain menarik dijadikan spot untuk melihat matahari terbit, dari puncak Pakuwaja, pendaki juga bisa melihat pemandangan Gunung Sindoro, Slamet, Merapi, Merbabu, dan bahkan Telomoyo. Sementara jika melihat ke arah utara  tampak di Kejauhan lokasi Wisata Telaga warna yang menjadi bonus terindahnya.

Bisa dibilang di Gunung Pakuwaja merupakan puncak tertinggi di dataran tinggi Dieng. Disana suasananya sangat tenang bisa menjadikan tempat santai ketika sedang berlibur atau sekedar mengisi waktu luang untuk menikmati indahnya alam semesta dan indahnya ciptaan Tuhan.

Yang terpenting ketika kalian pergi ke gunung dimanapun tempatnya, selalu jaga lingkungan seperti tidak membaung sampah sembarangan dan jangan sekali-kalai merusak lingkungan. Hingga ada kata-kata mutiara untuk mengingetkan para pendaki  yang pernah kami temukan disuatu gunung “jangan tinggalkan apapun kecuali jejak, jangan ambil apapun di gunung kecuali gambar”.

Sekian semoga informasi ini bis menjadikan wawasan baru buat kalian yang belum pernah ke gunung Pakuwaja.

Berburu Indahnya Sunrise Di Puncak Gunung Bismo

Berburu Indahnya Sunrise Di Puncak Gunung Bismo
Gunung bismo, gunung yang terletak di Provinsi Jawa Tengah ini dulunya bekas gunung api dengan kawah tua yang terpotong membuka ke arah tenggara, tapi sekarang sudah aman alias tidak aktif. Tepatnya letak gunung Bismo berada di perbatasan desa Campursari dengan desa Sikunang, kecamatan Kejajar, kabuaten Wonosobo, provinsi Jawa Tengah. Posisinya bisa kita bilang masih berada di pegunungan komlek Gunung Api Dieng. Gunung tersebut memiliki ketinggian 2.365 meter di atas permukaan air laut (MDPL).

puncak gunung bismo

Apabila melewati jalur desa Sikunang memang jalannya sudah tidak begitu menanjak karena ketinggiannya sudah sekitar 2260 Mdpl. Bagi kalian yang ingin mencoba mendaki gunung Bismo, telah terbuka jalur yang telah disediakan untuk umum yakni melalui dusun Silandak, kecamatan Mojotengah, Wonosobo. Melalui jalur ini jalan sudah enak dilalui karena memang kedepannya akan digunakan sebagai jalur resmi pendakian gunung Bismo, kabarnya setelah jalan utama menuju desa tersebut di aspal baru tempat basecamp dan fasilitas lain sebagainya akan segera disediakan.

Untuk mencapai puncak Bismo kita harus melewati 4 pos, dimana pos pertama kita akan melewati sumber air yang telah disediakan untuk para pendaki. Jadi para pendaki bisa mengisi cadangan air pada sember mata air tersebut yang asli dari gunung Bismo.

Kemudian pos 2 kita akan melihat pemandangan hutan pakis yang tertanam rapi dan indah, ini bagus buat mengambil foto terlebih dahulu sebelum melanjutkan ke pos berikutnya. Karena sering di jaga dan dirawat oleh warga sekitar, tepat di bawah hutan pakis telah di tananam pohon kopi, yang mungkin nantinya untuk penghasilah warga dan yang terpenting yakni melestarikan kopi di dusun Silandak.

Dilanjutkan perjalanan dimana kita akan menemui pohon ilalang yang tingginya mencapai 2 meter lebih. Harus berhati-hari karena daunnya yang tajam akan membuat tangan atau bagian tubuh kita terluka apabila sampai menyenggol sisi daunnya. Nah untuk itu pastikan kalian membawa sarung tangan dan memakainya setalah sampai tempat ini supaya aman dari daun ilalang tepatnya di pos 3.

Untuk lokasi selanjutnya hingga menuju ke pos 4 jalannya mulai nanjak, samping kanan kiri banyak pepohonan tua dan suhunya pun semakin dingin jangan lupa siap pakai jaket. Tetap hati-hati itu harus diutamakan apalagi yang belum pernah naik gunung jangan sampai mendahului ataupun tertinggal jauh dengan kelompok. Semakin ke atas jalan semakin sempit dan sisi kanan kiri jurang, memang kalau kita lihat dari bawah sudah kelihatan sangat jelas, gunung bismo itu memanjang dan lancip.

Setelah melewati pos 4 kita akan disuguhkan sebuah puncak Bismo di depan mata yang indah dan menawan, rasanya sudah sangat dekat sekali tetapi perasaan tidak sampai-sampai karena disini kita sudah sangat lelah melewati beberapa pos dari bawah. Sampai puncak membutuhkan waktu sekitar 3 sampai 5 jam, itu tergantung cuaca kalau cerah 3 jam bisa sudah sampai dan kalau kurang mendukung ya bisa 4-5 jam.

Bagi kalian yang ingin mencoba menaiki gunung Bismo melalui jalur dusun Silandak, disarankan jangan malam hari karena jalannya bisa dibilang ekstrim. Mending berangkat sore hari dan pastikan cuaca sedang dalam keadaan cerah. Khususnya buat yang baru pertama kalinya mau ke gunung Bismo, kalau sudah pernah dan tahu rutenya malam hari tidak menjadi masalah lagi.

sunrise puncak gunung bismo

Yang terakhir, mungkin kalian bertanya-tanya bagaimana dengan Sunrise di Puncak Bismo?

Tidak usah di ragukan lagi, sesuai yang telah saya katakan tadi pastikan cuaca tidak mendung maka sunrise di gunung Bismo sangat indah. Tidak sia-sia dengan perjalanan yang melelahkan, semua akan terbayar setelah kita melihat matahari terbit dan pemandangan disekitar melihat luasnya kota Wonosobo dari puncak gunung Bismo. Juga akan melihat pemandangan gunung lainnya seperti gunung Sindoro, gunung Sumbing serta gunung pakuwojo.

Kalau kita sampai di puncak masih cerah, jika kalian beruntung akan melihat hewan monyet misalnya berangkat siang dan sampai sana sore itu bisa saja menjumpai hewan tersebut. Sesampai di puncak Bismo tetap jaga etika karena disana terdapat makam Mbah Bismo dan jangan lupa untuk tidak membuang sampah sembarangan demi menjaga alam tetap lestari. Baik, saya rasa cukup sekian dan terima kasih.